Selasa, 02 Oktober 2012

Sukses Jadi Pelatih, Mourinho Sesali Sosoknya Sebagai Ayah

FOTO:Getty Images/Jasper Juinen
Madrid - Terkait sepakbola, kehidupan Jose Mourinho terlihat sempurna dengan setumpuk gelar yang sudah didapat. Di sisi kehidupannya yang lain, pria asal Portugal itu mengaku tak menjalankan peran ayah dengan sempurna.

Empat gelar juara di empat kompetisi liga yang berbeda sudah didapat Mourinho dalam usia yang relatif muda. Catatan hebat lain yang dia punya adalah dua gelar Liga Champions bersama FC Porto dan Inter Milan.

Terlepas dari sikap kontroversialnya, pria 49 tahun itu tetap dianggap sebagai salah satu yang terbaik di dunia saat ini. Sayangnya, sukses sebagai pelatih berdampak buruk buat kehidupannya yang lain, kehidupan sebagai seorang ayah.

"Saya benci kehidupan sosial saya. Saya benci tidak bisa menjadi seorang ayah yang normal yang bisa melihat pertandingan sepakbola anak laki-lakinya dan berada di pinggir lapangan bersama 20 orang ayah yang lain menyaksikan pertandingan itu," sahut Mourinho dalam wawancaranya dengan CNN.

Mourinho juga menyesalkan hilangnya privasi dia saat tengah berada di ruang publik bersama anaknya. Kesempatan menyaksikan Jose Mario, Jr -- anak kedua Mourinho yang berjenis kelamin laki-laki -- selalu diganggu dengan fans yang meminta foto bersama atau tanda tangan.

Tapi bukan itu saja, dengan banyak orang yang membencinya, Mourinho kerap dapat cemoohan saat berada di sana. Yang kemudian disebutnya sebagai terburuk adalah saat anaknya juga dapat ejekan.

"Saya sedang menyaksikan pertandingan sepakbola anak-anak dan saya harus berada di sana. Orang-orang kemudian datang untuk foto, orang-orang datang untuk meminta tanda tangan; orang-orang kemudian datang untuk menghina saya; orang-orang yang berada di balik gawang anak saya dan menghina anak saya yang baru berusia 12 tahun," kisah Mourinho kemudian.

'Mereka Pikir Mereka Tahu Saya'

Pada kesempatan yang sama Mourinho juga menyayangkan tudingan-tudingan miring yang datang padanya dari banyak media Eropa, terkait reputasinya yang penuh kontroversi. Mourinho menyebut kalau sosoknya sebagai pelatih berbeda jauh dengan kondisi dirinya di keseharian.

"Saya pikir itu sesuatu yang normal karena orang berpikir mereka mengetahui saya, tapi mereka tidak. Orang tahu (saya) sebagai manajer, terutama selama 90 menit. Dan selama 90 menit saya berada di sana bukan untuk bersenang-senang."

"Kesenangan adalah konsekuensi. Saya berada di sana untuk melakukan pekerjaan saya, saya berada di sana bersama tim saya untuk menang. Saya di sana dan menghidupkan pertandingan, saya menjalani pertandingan itu selayaknya itu pertandingan terakhir di karier saya," lanjutnya .

"Orang tidak tahu nsaya sebagai seorang teman, sebagai seorang family man, sebagai manajer di dalam tim ini, hubungan-hubungan yang saya punya dengan orang-orang di klub ini. Jadi saya tidak akan protes dan bilang kalau orang salah. Orang-orang melihat ke arah saya dengan mata yang salah. Tidak, mereka melihat apa yang mereka lihat," tuntas Mourinho.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar